December 12th, 2007 by elqorni
APA YANG DIPERLUKAN UNTUK MENGHADAPI KEGAGALAN 

Calon
wirausahawan harus siap gagal. Fahamilah makna kegagalan. Tanpa faham
filosofi itu, jangan berpikir mau mengambil jalan menjadi wirausaha.
Alasannya, ada yang sukses dalam usahanya, ada yang belum berhasil.
Pengusaha mengetahui bahwa ”kegagalan” bukan akhir permainan dan tidak
boleh takut mengalaminya. Ia menyadari dengan keberanian, bahwa bisa
saja mengatasi sesuatu yang tidak mungkin untuk berhasil.

Menghadapi risiko, adalah gabungan kerja keras, kecerdikan, kehati-hatian, kecermatan membaca peluang dan kesiapan menghadapi kegagalan maupun keberhasilan. Happy ending
sebuah ikhtiar adalah keberhasilan. Ini dicapai, tentu setelah melewati
keberhasilan demi keberhasilan kecil, seperti keberhasilan
menyingkirkan kesulitan dan bahaya. Proses ini dibangun dari
kesungguhan melahirkan segenap potensi diri seorang wirausahawan.
Dengan begitu, ia mengubah “kekalahan menjadi kemenangan”, sebuah
proses yang kecil peluang pencapaiannya tanpa kesiapan mental
menghadapi kegagalan. Kalau Anda termasuk yang tidak siap gagal, lebih
baik jangan meniti jalan ini. Bahkan, mengimpikannya saja, jangan!

Setiap
kegagalan adalah pelajaran yang mendorong pengusaha untuk mencoba
pendekatan baru yang belum pemah dicoba sebelumnya. Bagi pengusaha
sejati, “Berani Gagal” berarti “Berani Belajar”. Dengan gagal dan
dengan belajar, pengusaha bertumbuh menjadi orang yang lebih baik dan
belajar bagaimana menciptakan kekayaan sejati. Walaupun pengusaha
kehilangan kekayaan materi yang telah mereka peroleh, mereka tahu
bagaimana menciptakan semua kekayaan itu lagi. Pelajarannya tidak pemah
hilang. Sebaliknya, mereka yang tidak pemah mengalami perjalanan yang
sulit dan menemukan kekayaan dengan mudah, tidak akan tahu bagaimana
menciptakan kekayaan ketika mereka kehilangan. Dengan kata lain, mereka
yang tidak gagal tak akan tahu kekayaan sejati.

Gemerlap
materi, pada komunitas bahkan kehidupan sosial yang serba benda
(materialistis), lebih banyak memperoleh penilaian tinggi. Sebaliknya,
siapa pun mengalami kegagalan, sudah mendapat stempel sosial sebagai
manusia yang kehilangan harga. The looser dunia usaha, sering
menjadi figur yang menghadapi titik balik sikap sosial terhadapnya.
Dulu, saat masih jaya, ia banyak rekan dan kolega, setelah gagal dalam
usahanya, hampir semua rekan dan kolega yang dulu mendukungnya, menebar
senyum ramahnya, bahkan mengajak bermitra, hilang sudah! Akibat cara
pandang seperti ini, banyak wirausahawan yang traumatik terhadap
kegagalan. Ini, “awal kematian” benih-benih kewirausahaan. Semua pihak
harus mengubah sikapnya: doronglah masyarakat
menjadi pihak yang turut membangun keberanian banyak orang untuk respek
terhadap ikhtiar orang meraih keberhasilan dalam bisnis. Gagal atau
keberhasilan, bukan menjadi satu-satunya alasan menghargai atau
meremehkan wirausahawan. Tentu, sembari tetap mentransfer sikap-sikap
arif, bahwa dalam setiap kegagalan selalu ada pelajaran berharga.
Seorang bijak berkata,”sukses hanyalah pijakan terakhir dari tangga
kegagalan.”

Kita
perlu menggalakkan orang untuk berani mengambil resiko. Hal ini
membutuhkan pola pikir yang sangat berbeda. Untuk kita, itu berarti
mengabaikan peraturan yang telah berlaku baik selama 30 tahun lebih.

Lee Kuan Yew, mantan PM Singapura

Yang Diperlukan Untuk Menghadapi Kegagalan

  Ada
banyak pembahasan tentang tips menghadapi kesuksesan. Tetapi bagi kami,
sama pentingnya, menyiapkan sejumlah hal untuk menghadapi kegagalan!
Billy P.S. Lim, motivator kelas dunia yang berbasis di

Malaysia

,
pernah menanyakan kepada peserta trainingnya tentang satu masalah
menarik. ”Mengapa orang akan tenggelam apabila jatuh ke dalam air?”

Berbagai
jawaban diberikan tetapi yang paling sering ialah ”Dia tak dapat
berenang.” Yang hadir heran, karena Lim menyalahkan jawaban itu. Yang
hadir mengira, Lim bercanda. Untuk menyakinkan mereka, Lim memberi
contoh kejadian orang tenggelam di air sedalam tiga inci. Akhirnya, ia
memberitahu jawabannya, yang akan ia berikan
kepada Anda sekarang. Kami kutip pendapat Lim: ”Orang tenggelam karena
dia menetap disitu dan tidak menggerakkan dirinya ke tempat lain.”

So? Berapa kali orang jatuh tak jadi soal. Yang penting kemampuannya untuk bangkit kembali setiap kali jatuh.

Ukurannya, Bangkit Lagi

Jangan
ukur seseorang dengan menghitung berapa kali dia jatuh, ukurlah ia
dengan beberapa kali dia sanggup bangkit kembali. Seseorang yang mampu
bangkit kembali setelah jatuh, tidak akan putus asa. Menyedihkan,
mendengar bahwa banyak orang seperti mereka, setelah sekali dua kali
gagal, memilih untuk menetap di situ dan akhirnya mati sebagai orang
yang sebenar-benarnya gagal, tersungkur, dan tidak bangkit lagi.

Apakah
kualitas diri kita akan membantu bangkit kembali setelah kita terjatuh?
Kualitas diri sendiri adalah sesuatu yang mesti saya sebutkan, karena
kalau tidak, makna buku ini tidak sempuma.

”Tidak
ada apapun di dunia ini yang bisa menggantikannya. Bakatpun tidak;
Banyak sekali orang berbakat yang tidak sukses. Kejeniusanpun tidak;
Jenius yang tidak sukses sudah hampir menjadi olok-olokan.
Pendidikanpun tidak; dunia ini penuh dengan orang terpelajar. Hanya
kemauan dan ketabahan saja yang paling ampuh.”

Ya,
ketabahan, yakni kemampuan bangkit kembali untuk kesekian kalinya
setelah terjatuh. Dalam benturan antara sungai dan batu, air sungai
senantiasa menang bukan dengan kekuatan tapi
dengan ketabahan. Seberapa jauh Anda jatuh tidak menjadi masalah,
tetapi yang penting seberapa sering Anda bangkit kembali.

Apabila
Anda dapat terus mencoba setelah tiga kegagalan, Anda dapat
mempertimbangkan diri untuk menjadi pemimpin dalam pekerjaan Anda
sekarang. Jika Anda terus mencoba setelah mengalami belasan kegagalan,
ini berarti benih kejeniusan sedang tumbuh dalam diri Anda. Seperti
Thomas Alfa Edison, saat ditanya, bagaimana ia bisa bertahan setelah
ribuan kali gagal? Penemu bola lampu dan pendiri perusahaan kelas
dunia, General Electric ini menjawab,

”Saya
tidak gagal, tetapi menemukan 9994 cara yang salah dan hanya satu cara
yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan
yang gagal.”

Sungai Coloradomengalir tabah terus-menerus, melahirkan Grand Canyon, Charles Goodyear yang tekun, membuahkan ban yang memungkinkan
kendaraaan melaju kencang. Tabahnya Wright bersaudara membuahkan
pesawat terbang. Bethoven, mengisi dunia dengan musik inspiratif, John
Milton membuahkan karya puisi indah yang menyejukkan hati, perempuan
tuna netra yang tegar Helen Keller, memberikan harapan kepada semua
orang cacat, ketabahan Abraham Lincoln membuatnya terpilih menjadi
presiden. Dan, tentu, Thomas Alfa Edison, memberi kita cahaya listrik.
Kesuksesan tergantung pada kekuatan untuk bertahan. Kurang tabah
merupakan salah satu alasan orang gagal dalam bisnis, politik, dan
kehidupan pribadi.

Setiap orang sukses menyatakan bahwa kesuksesan hanya berada di luar ketika mereka yakin idenya akan berhasil.”

Dr. Napoleon Hill

Menarik Hikmah, Jangan Menyerah

Anda
tumbuh menjadi semakin dewasa dan bijaksana. Dulu Anda menanggung
kegagalan secara pribadi. Ketika kulit Anda mulai berkerut sejalan
dengan perjalanan usia, Anda cenderung belajar dari kesalahan -
kesalahan Anda

Cheong Chonng Kong

Secara
sederhana, kegagalan adalah situasi tak terduga yang menuntut
transformasi dalam sesuatu yang positif. Jangan lupa bahwa Amerika
Serikat merupakan hasil dari kegagalan total. Karena Columbus
sebenarnya ingin mencari jalan keasia

Eugenio Barba.

Mengantisipasi bencana sejak dini, karakteristik seorang entrepreneur. Jangan biarkan kebanggaan dan sentimen mempengaruhi keputusan-keputusan
Anda. Sebuah gagasan gagal, adalah pelajaran ada saat untuk bangkit
kembali untuk mengejar target-target Anda berikutnya.

Babe Ruth, pemain baseball terkenal, tidak hanya mencetak 714 home run, namun dia juga pernah luput (strike out) 1330 kali.

Ray Meyer, pelatih bola basket legendaris di DePaul University
telah memimpin timnya memenangkan 37 musim, kompetisi. Saat timnya
kalah, setelah kemenangannya yang ke-29, dia ditanya bagaimana
perasaannya. “Luar biasa!” katanya. “Sekarang kami dapat
mengkonsentrasikan diri bagaimana memenangkan permainan daripada
memikirkan kekalahan ini.”

Kegagalan, jangan biarkan sebagai sesuatu yang final. Entrepreneur sejati, memandang kegagalan sebagai awal, batu loncatan untuk memperbaharui kinerja bisnis mereka di masa mendatang. Pemimpin tidak menghabiskan waktunya memikirkan kegagalan.

Untuk memicu kesiapan mental Anda, kita belajar dari cerita tentang
seorang eksekutif IBM yang memiliki prospek cerah. Ia baru saja
melakukan kesalahan transaksi yang merugikan perusahaan jutaan dollar.
Thomas J. Watson, pendiri IBM, memanggil eksekutif muda itu ke kantornya. Spontan eksekutif itu berkata.

“Saya tahu Anda pasti meminta saya mengundurkan diri, bukan?”

”Anda tidak perlu cemas. Kami baru saja mengeluarkan jutaan dolar untuk mendidik Anda!” Begitu jawab Watson.

***

Perusahaan
seperti milik kami harus menciptakan suasana di mana orang-orang tidak
takut mengalami kegagalan. Ini berarti kami menciptakan sebuah
organisasi dimana kegagalan tidak hanya ditoleri tetapi ketakutan
dikritik karena menyampaikan gagasan bodoh juga dihilangkan. Jika
tidak, maka banyak orang yang merasa cemas dan tidak nyaman. Dan
gagasan-gagasan brilian yang sangat potensial tak akan pemah terucapkan
dan tak akan pemah terdengar. Kegagalan masih bisa ditolerir selama itu
tidak menjadi kebiasaan.

Michael Eisner, Walt Disney Corp.

Jadi?
Ya, gagal bukan kiamat bisnis, tapi jangan kelewatan. Apalagi menjadi
“kebiasaan”. Kerjakan yang mampu dilakukan, semakin terbatas sumber
dana, Anda patut semakin bijaksana. fahami, kapan harus meminimalisasi
kerugian.

Bila Jatuh, Cepatlah Bangkit

Di dunia kerja, yang disebut masalah sesungguhnya adalah kesempatan yang menunggu, dipungut.

Henry J. Kaiser

Bagi saya pribadi, krisis Asia telah berakhir pada saat dimulainya persaingan untuk mendapatkan hotel Regent bangkok  pada bulan Maret 1999.
Setelah melewati masa-masa sulit selama dua tahun sebelumnya, mendadak
saya memutuskan mengikuti lomba balap Ferari di Perancis serta bersaing
di ring dengan Goldman Sachs Co., salah satu bank investasi terbesar
dunia.

William E. Heinecke, konglomerat Thailand

Pembaca,
saat banyak konglomerat bangkrut dan bank-bank mengalami kegagalan di
Thailand, tujuh hotel milik Heinecke, restoran siap saji dan perusahaan
lainnya terus berusaha keras keluar dari krisis serta berusaha
mendulang keuntungan di tahun 1998. Meskipun banyak analis meramalkan
tentang pertumbuhan ekonomi pada tahun 1999 dan menguji Baht Thailand, tidak banyak perusahaan yang bisa menandingi kemampuan kerja kelompok bisnis Heinceke.

Fantastis, hotel Heinecke mengalami kenaikan 24%, 246 restoran kelompok bisnisnya menarik lebih dari tak kurang dari

lima

juta pelanggan! Pada tahun 1997 kelompok perusahaan Heineke mengalami kerugian 1 milyar baht, tetapi setahun kemudian tiga perusahaannya yang telah go public, mendapatkan keuntungan bersih 500 juta baht, pada triwulan pertama tahun 1999, keuntungannya lebih banyak lagi.

Belum
yakin, kegagalan, hanyalah sebuah tikungan tajam yang menuntut
”kendaraan” usaha, sedikit mengurangi kecepatan, lalu di depan, begitu
melihat ”jalan mulus peluang”, Anda bisa menebusnya dengan kecepatan
yang lebih tinggi. Bisnis Heinecke di Thailand, saat ini benar-benar
telah pulih.

Regent Bangkok, salah satu hotel terbesar di asia ,
tingkat huniannya tetap tinggi. Saat itu, Regent di bawah kontrol
beberapa perusahaan yang sedang mengalami kesulitan keuangan dan
manajerial seperti halnya perusahaan-perusahaan lainnya di
sehingga mereka berusaha untuk menjual saham Regent. Regent dimiliki
oleh Rajadamri Hotel Company yang kemudian 32% sahamnya dimiliki oleh
sebuah perusahaan Jepang yang telah bangkrut yang diwakili oleh sebuah
bank Jepang yang cukup besar.

Masih ada lagi faktor lain yang lebih penting. Rajadamri Hotel Company juga memiliki 26% saham hotel bintang lima
milik Heinecke, di Thailand Utara, Regent Chiang Mai. Heineke enggan
menjualnya pada orang asing karena ia tak ingin ada orang asing
menguasai tanah keramat itu. Bagi Heinecke, ikut ambil bagian dalam
kepemilikan saham Regent Bangkok yang dijual pada awal tahun 1999
merupakan tindakan yang tepat, setelah sebelumnya ia sudah memiliki
saham Regent hampir 29%.

Apa kata Heineke tentang pelintasan bisnisnya yang penuh tikungan di masa krisis ini?

“Ini
adalah persaingan dimana saya harus mengeluarkan segala strategi dan
kemampuan yang telah saya pelajari : mempercayai intuisi, menggunakan
jaringan kerja kontrak yang mapan, menggunakan sejumlah pakar dan
merencanakan strategi-strategi dalam situasi yang selalu berubah cepat
jika diperhatikan, persaingan ini merupakan mikrokosmos semua strategi.
Saya berusaha menguji kemampuan saya dengan lawan-lawan yang
benar-benar tangguh. Goldman Sachs, salah satu grup investasi terkuat
di dunia ini, merupakan pemegang saham individu terbesar Regent
Bangkok, tapi itu tidak berarti bahwa mereka bisa berbuat sesuka
hatinya. Saya kira bagi seorang yang tidak lulus perguruan tinggi,
hasil seperti ini sudah cukup memuaskan”.

Bila Semuanya Gagal

Tekun, mengerahkan segenap daya, dan masih gagal juga. Apa yang harus kita lakukan?

Saat
gagal menimpa, kendati lelah dan kecewa berat, jangan matikan energi
kreatif Anda. Tetaplah berpikir kreatif. Sempurnakan produk yang ada,
atau hasilkan produk baru atau usaha baru yang mungkin belum
terpikirkan.

Jangan
terpaku pada karier dan keterampilan yang dimiliki, yang terlalu lama
bersandar pada lingkungan di mana kita dibesarkan atau selama ini
bergulat. Kadang kala apabila seseorang gagal setelah berusaha dengan
tabah dan mengerahkan sepenuh tenaga untuk sekian lama, mungkin tiba
saatnya ia mengkaji kembali bidang yang digeluti dan menilai apakah ia
mampu untuk mendapatkan apa yang dinginkannya di bidang tersebut.

Banyak cara untuk mencapai tujuan
hidup. Sebagian lebih cepat atau lebih lambat daripada yang lain.
Sebagian kurang berisiko tetapi lebih lambat daripada yang lain.

Saran
kami, janganlah terlalu kaku mengatakan bahwa Anda tidak bisa berubah.
Kami sendiri, kerap berubah seiring dengan perkembangan in put dan
stimulasi kondisi di sekitar kami. Tanpa itu, bagaimana mungkin kami
menyusun sebuah buku, memberi pencerahan bagi banyak orang?

Kadang kala dalam kehidupan kita terpaksa menekuni bidang usaha yang berlainan dan kita mesti menyesuaikan segala keterampilan
dan bakat yang tidak kita peroleh dari bidang-bidang usaha di masa
lalu. Lalu? Salurkan kekuatan itu di bidang usaha yang baru. Mungkin,
kita dipaksa mempelajari keterampilan baru, sebagai konsekuensi
menghadapi tantangan serba-baru itu.

Pernahkah
Anda bertanya bagaimana orang Jepang bangkit kembali dari kehancuran PD
II untuk menjadi pengusaha ekonomi yang unggul saat ini? Dulu, produk
Jepang sempat dinilai murahan, tidak berkualitas, dan stigma jelek
lainnya. Tapi sekarang, sulit bagi kita untuk hidup tanpa barang-barang
buatan Jepang di dalam rumah kita. Ini tidak hanya berlaku di Negara
kita saja, tetapi bahkan di seluruh dunia.

Orang-orang
Jepang tidak menciptakan mobil. Tidak juga kamera, kulkas, televisi,
AC, mesin cuci, penghisap debu, film atau system perangkat audio
berkualitas tinggi. Mereka tidak menciptakan banyak benda. padahal yang
mereka lakukan ”hanyalah” meniru.

Hakikat :peniruan ala Jepang”, sarat pesan penting bagi calon entrepeneur. Di

sana

ada proses penyempumaan tanpa
kenal lelah, sampai akhirnya ”tiruannya” lebih baik dari aslinya!
Mereka menggunakan ”kreativitas” untuk menyempumakan barang yang sudah
ada. Tak ada yang membantah, Jepang meraih suksesnya. Kultur
entrepreneurship tumbuh subur di

sana

, menyebar menguasai dunia.

Jika
Anda menyadari bahwa Anda tidak berhasil mencapai tujuan Anda pada
suatu pekerjaan di mana Anda telah dilatih untuk melakukannya, latihlah
atau lengkapi diri Anda dengan pekerjaan yang memberi peluang meraih
yang lebih baik di masa depan. Janganlah gantungkan diri Anda pada satu
keterampilan saja. Sebagai manusia, Tuhan memberi kita kemampuan untuk
mempelajari keterampilan baru dan menerjuni bidang usaha lain. Jangan
”hidup-mati” Anda gantungkan pada satu bidang saja. Orang lain bisa
sukses. Anda tentu juga bisa. hanya saja, ada yang lekas tercapai, ada
yang masih berliku.

”Jangan malu karena gagal, …seperti Christopher Colombus.”

Ketahuilah
apa yang akan Anda lakukan, lakukanlah dan jangan menunda kembali. Jika
Anda membuat kesalahan, buatlah kesalahan yang hebat. Seperti orang
yang sampai di persimpangan jalan dan bertanya,”Arah manakah yang perlu
saya tuju, arah

sana

atau sini?” Pergi saja! Pilih satu arah dan pergilah. Unsur masa itu
pasti ada. Segala sesuatu mempunyai waktu dan tempat yang wajar.”

Gum Rutt

 
Tengok kiri-kanan Anda. Produk Cina, membanjiri negeri ini. Bayangkan,
seperti apa sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang? Akankah ini
kita terima sebagai ”keharusan ekonomi”? Tidakkah Anda mulai berpikir
hal yang sebaliknya? Anda bisa!

Qolbu salim

December 7th, 2007 by elqorni
Macam-macam Penyakit Hati dan terapinya

Pendahuluan. 

Penyimpangan hati bisa diartikan berpalingnya hati dari nilai fitrah dan nilai kebenaran sehingga terjadilah pergolakan yang mengarah pada rusaknya pola pemikiran manusia dan menjauh dari yang Maha Kuasa.
Penyimpangan dan pemberontakan manusia terhadap perintah Allah dan
rasulnya termasuk bagian dari penyakit manusia berabad-abad
diperjuangkan dan didakwahi para Nabiyullah dan berlangsung sampai
sekarang dimana dikatakan peradaban manusia semakin terus berkembang,
namun penyimpangan hati manusia semakin tak terkontrol manakala peran
agama semakin dijauhi sehingga penyimpangan itu bertahan seperti
borok-borok kronis yang sulit disembuhkan Penyimpangan hati berkaitan
dengan ruh, nafsu dan akal manusia yang terkontaminasi iblis yang
bersemayam dalam bungkusan peradaban, modernisasi, reformasi dan
kemajuan manusia. Sehingga yang nampak adalah segi kemanusiaannya
melupakan segi keilahiyannya dan mengumbar nafsu sebagaimana yang
dilakukan kaum yahudi, penyimpangan ini yang kerap kali dimaknai
sebagai prilaku jahiliah.

Gambaran hati manusia dan penyimpangannya.

Rasulullah
SAW memperumpamakan hati seperti bulu-bulu ditengah lapang yang
diihembus angin (sehingga beterbangan) yang membahayakan perut. (Dari Kitab Syarhus Sunnah, diriwayatkan Ibnu Majah dan Imam Ahmad).

Dalam hadits lain beliaupun bersabda “Tiada
hati melainkan memiliki semacam awan yang menyelimuti rembulan.ketika
tidak terhalang ia memancarkan sinarnya, ketika awan datang ia menjadi
gelap
.” (Dikeluarkan Imam At-Tabrani dalam kitab Al- Ausath dan dihasankan oleh Imam Al-Albani).

Lebih
lanjut Rasulullah bersabda : “ketahuilah, sesungguhnya didalam tubuh
terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh”

Ibnu Qoyim Al-Jauziah mengungkapkan hati :

Ketahuilah
sesungguhnya seeorang hamba menempuh jalan menuju Allah dengan hati dan
tekad bajanya dan bukan dengan fisiknya. Hakikat takwa adalah takwanya
hati, bukan takwanya anggota badan”
(Abdul Karim bin Abdul Majid Ad-Diwan, Assirrul maknun fi riqqotil qulub wa da’il ‘uyun)

Lebih lanjut, bahwa “sesungguhnya
dalam hati terdapat ruang kosong dan celah yang tak dapat diisi oleh
sesuatupun kecuali Allah. Terdapat penyakit yang tidak dapat
disembuhkan selain dengan sikap ikhlas dan
beribadah hanya kepada-Nya. Fitnah-fitnah yang mengancam dan menimpa
hati merupakan penyebab sakit hati, yaitu fitnah syahwat, sikap
menyimpang, maksiat-naksiat dan kedzaliman. Juga fitnah subhat,
kesesatan, bid’ah dan kebodohan. Jenis fitnah pertama berimplikasi pada
rusaknya niat dan tujuan, seadangkan fitnah kedua yang berakibat
rusaknya ilmu seseorang serta aqidahnya”

 Jenis hati 

Ibnu Qoyim dalam bukunya “Mawaridul aman al-muntaqa min ighotsatul lahfan fi mashayidisy syaithon “(2004: 1-6) membagi hati menjadi 3 yaitu

a). Hati yang sehat:
hati yang selalu menerima, mencintai dan mendahulukan kebenaran; hati
yang selamat dari syahwat yang menyalahi Allah dan rasul-Nya, bersih
dari berbagai subhat yang bertentangan dengan beritanya; dan hati yang selamat dari menjadikan sekutu untuk Allah dengan alas an apapun.

b). Hati yang mati
: hati yang tidak menerima kebenaran dan tidak taat pada kebenaran;
hati yang tidak mengetahui Allah bahkan untuk menyembah-Nya; hati yang
didominasi hawa nafsu sebagai komandannya walaupun harus dimurkai dan
dibenci Allah

2:10c). Hati yang sakit
: hati yang hidup tapi cacat, terkadang menerima kebenaran ketika bisa
mengalahkan penyakitnya tapi terkadang menolak kebenaran saat
penyakitnya kambuh. Al-Qur’an menggambarkan hati sakit bahwa : Dalam
hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya (QS. ),
agar dia menjadikan apa yang dimasukan oleh syetan itu, sebagai cobaan
bagi orang-orang yang didalam hatinya ada penyakit (Al-Haj : 53)

Jenis penyakit hati

Penyakit hati ada dua macam : Pertama,
orang yang bersangkutan seketika itu tidak merasakan sakit apapun,
karena penyakit ini manusia tidak merasakan apa-apa karena hati telah
rusak dan apa yang dirasakannya sebagai sebuah kebenaran dan hal yang
yang dianggap fitroh, inilah jenis penyakit terdahulu, seperti penyakit
kebodohan, syubhat, keraguan dan penyakit syahwat kedua, penyakit yang menimbulkan sakit seketika, seperti sedih, gundah, resah dan marah, prustasi.

Dari 2 jenis penyakit ini bisa diikhtisarkan penyakit hati sebagai berikut :

1. Waswas

2. Berlebihan (Isrof)

3. Bersandar pada akal

4. taklid dan fanatisme buta

5. Menganggap baik perbuatan bid’ah dan munkar

6. Menganggap diri mulia dan meremehkan manusia lain.

7. Mengasingkan diri dari manusia

8. Merasa yang paling benar dan menolak kebenaran, kritikan dan masukan yang berasal dari orang lain.

9. Sedih berlebihan sehingga mudah frustasi dan bergembira berlebihan.

10. Sering gelisah dan rendah diri sehingga mudah marah

11. Penyimpangan syahwat, dll.

Terapi hati

Ada beberapa terapi menyembuhkan penyakit hati; Penyakit hati yang sering menggangu manusia dapat diuraikan sebagaimana yang diungkapkan oleh Al-Qur’an adalah

a). Selalu menata hati

Penyakit
fisik maupun rohani dalam penyembuhannya membutuhkan waktu dan
kesadaran pribadi akan sifat-sifat yang dianggap penghambat hati untuk
bertaqorub pada Allah dan beramal ma’ruf pada manusia salah satunya
dengan menata hati : 1). Muhasabah, 2). Bertaubat dan meninggalkan perbuatan serta penyimpangan hati, 3). Mencari dan menguatkan kebenaran dengan mengkaji  ilmu Allah, kurangi amalan bid’ah, tahayul dan khurofat 4) Menguatkan niat dan keikhlasan dan terakhir 5). Hati diasah dengan tarbiyah.

b) Selalu memperindah dan Melembutkan hati.

Memperindah hati dan melembutkan hati dengan ibadah secara berkelanjutan seperti
: 1). Membiasakan diri membaca Al-Qur’an untuk menghaluskan lidah 2).
Rajin shalat malam untuk melembutkan hati kita 3). Rajin shaum sunnah
untuk melengkapi kelembutan perut kita 4) membiasakan diri shalat duha
5) Rajin bergaul dengan orang sholeh dalam rangka mengkaji keagamaan.
6). Mempertahankan hijab (tabaruz, Ghodwul bashor, ihtilat, dan kholwat) dengan
lawan jenis untuk menutupi celah-celah syahwat 7). Membiasakan shalat
berjamaah di mesjid. 8). Mengurangi membaca, menonton dan mencoba-coba
media-media (Bacaan porno, VCD, tayangan TV) yang bisa mematikan hati.

c) Menghidupkan hati nurani. 

Hati
butuh diasah dengan : 1). Belajar mempertahankan prinsip kebenaran 2).
Belajar berempati pada penderitaan orang lain. 3). Berani mengakui
kesalahan dan kritis mengungkapkan kebenaran walau dilemma dan
menyulitkan 4). Menghidupkan nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupan 5)
bergurulah dengan orang sholeh dengan sering membaca biografi-nya. 6)
carilah seorang pembimbing yang bisa diajak ‘curhat’ kalau kita punya
masalah spiritual dan pribadi yang berat 7) melaksanakan amalan kecil
secara konsisten 8) tarbiyahkan pribadi kita dalam majlis ilmu dan
forum diskusi.

d). Memelihara dan menjaga hati.

Tidak
hal yang paling sulit adalah menjaga ketetapan hati yang sudah
terpelihara oleh nilai-nilai ilahiyah adalah 1). Niat dan keikhlasan
2). Menjaga komitmen 3). Menjaga pandangan, pendengaran dan lidah dari
hal-hal yang bertentangan dengan nilai agama. 4). Mempertahankan
fikrah/pola fakir yang lurus yang sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah
rasul.

5). Sering menghitung dosa-dosa dan disegerakan bertaubat.

 

Demikianlah
terapi sederhana penyakit hati dan tentu membutuhkan adanya keberanian
dan jelas butuh adanya reformasi diri dengan memahami bahwa semua
penyakit hati akan menjadi pengahlang kita untuk mendekatkan diri pada
Allah. Wallahu ‘alam bishowab.

Beyond Top-of-Mind

December 5th, 2007 by elqorni

A number of clients questioned me on why their products have low sales levels while research show that consumers are most familiar with their products. Why is there some sort of discontinuity between top-of-mind awareness and purchase decision?

For me the answer would be simple enough: There is actually no direct connectivity between top-of-mind and purchase decision. Top-of-mind only demonstrates how familiar the respondents are to a certain product. Whether they will actually buy it or not is a different matter altogether.

Such case happens because top-of-mind evaluation is conducted through quantitative research while consumer reasoning that form the base of purchase decisions can only be analyzed through qualitative research. Thus in reality, quantitative research results can only skim the surface and not actually capture insights from respondents or consumers.

Therefore, as I’ve explained in a past article in this column, starting a few years back we’ve been trying to concentrate more in qualitative research. We believe the result of qualitative research will be more beneficial to companies and can act as the basis of determination of competitiveness excellence.

Now I will re-elaborate qualitative research. In qualitative research, there exists such premise: “What counts is what cannot be counted”. Thus, in qualitative research what is of importance is not the percentage of top-of-mind, for example, but factors that influence the respondents’ decisions – especially subconsciously. These results will help companies understand consumers better and consequently create better products, better service, and more effective advertising.

We should bear in mind that respondents are not conditioned to thinking deeply about the reasons they buy/don’t buy or like/don’t like a certain product, service, or advertisement. Probably they would quickly respond to direct questions such as “How often do you shop for baby formula?” but tend to keep silent or have difficulties in giving an answer clearly when asked more abstract questions like “By feeding your child this particular baby formula, what would you expect from him/her when he/she grows up?”

To capture such things, a number of tools and techniques are needed to help respondents access what forms the base of their rational reasoning of an issue or a topic. Other than by using VenuSight®, as I’ve written before, we can also utilize focus group discussions (FGD). Most importantly, respondents must have the freedom to express their deepest thoughts without feeling that they are being questioned or interrogated like crime suspects in a police station.

The most common technique used is called “projection”. In short, this means letting respondents externally talk about internal subjects. The respondents talk about subject external to them, when these subjects are actually a representative of their inner or deepest thoughts. This method makes them more open since they don’t feel shy, anxious, or responsible of their opinions.

For instance an FGD is conducted with a client of an automotive company. The FGD moderator is free to come up with a scenario that enables the respondents to openly express their opinion around strangers, in this case other FGD respondents in the room.

A sample of such scenario would be a fictional story about a family that consists of a father, a mother, a son, two daughters, and a grandfather. The son will be graduating from his Bachelor’s program next month. Both parents have agreed to buy a car as graduation gift for their son but they have yet to pick a model.

Now the respondents in the mentioned FGD are asked to do a role play and act as characters of this fictional family. They can openly express their opinions on what brand and model of car they should get for the son. Respondents have to keep in mind that the opinions they express are not their personal opinions, but rather opinions of the characters that they are taking the role of.

I’m sure that a lively discussion will ensue. Although the respondents would maybe try to ensure that what they’re expressing aren’t personal opinions, but certainly the opinions are based on their personal experiences. This way more honest answers and a deeper insight may be revealed compared to asking them whether they like a certain model of car. The result of such qualitative research will definitely be more beneficial than just a top-of-mind number that only contributes to false pride.

By and refrence :Investor Daily, 26 April 2007,Hasanuddin
Research Manager, MarkPlus Insight
E-mail: hasanuddin@markplusnco.com