Qolbu salim
Penyimpangan hati bisa diartikan berpalingnya hati dari nilai fitrah dan nilai kebenaran sehingga terjadilah pergolakan yang mengarah pada rusaknya pola pemikiran manusia dan menjauh dari yang Maha Kuasa.
Penyimpangan dan pemberontakan manusia terhadap perintah Allah dan
rasulnya termasuk bagian dari penyakit manusia berabad-abad
diperjuangkan dan didakwahi para Nabiyullah dan berlangsung sampai
sekarang dimana dikatakan peradaban manusia semakin terus berkembang,
namun penyimpangan hati manusia semakin tak terkontrol manakala peran
agama semakin dijauhi sehingga penyimpangan itu bertahan seperti
borok-borok kronis yang sulit disembuhkan Penyimpangan hati berkaitan
dengan ruh, nafsu dan akal manusia yang terkontaminasi iblis yang
bersemayam dalam bungkusan peradaban, modernisasi, reformasi dan
kemajuan manusia. Sehingga yang nampak adalah segi kemanusiaannya
melupakan segi keilahiyannya dan mengumbar nafsu sebagaimana yang
dilakukan kaum yahudi, penyimpangan ini yang kerap kali dimaknai
sebagai prilaku jahiliah.
Gambaran hati manusia dan penyimpangannya.
Rasulullah
SAW memperumpamakan hati seperti bulu-bulu ditengah lapang yang
diihembus angin (sehingga beterbangan) yang membahayakan perut. (Dari Kitab Syarhus Sunnah, diriwayatkan Ibnu Majah dan Imam Ahmad).
Dalam hadits lain beliaupun bersabda “Tiada
hati melainkan memiliki semacam awan yang menyelimuti rembulan.ketika
tidak terhalang ia memancarkan sinarnya, ketika awan datang ia menjadi
gelap.” (Dikeluarkan Imam At-Tabrani dalam kitab Al- Ausath dan dihasankan oleh Imam Al-Albani).
Lebih
lanjut Rasulullah bersabda : “ketahuilah, sesungguhnya didalam tubuh
terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh”
Ibnu Qoyim Al-Jauziah mengungkapkan hati :
“Ketahuilah
sesungguhnya seeorang hamba menempuh jalan menuju Allah dengan hati dan
tekad bajanya dan bukan dengan fisiknya. Hakikat takwa adalah takwanya
hati, bukan takwanya anggota badan” (Abdul Karim bin Abdul Majid Ad-Diwan, Assirrul maknun fi riqqotil qulub wa da’il ‘uyun)
Lebih lanjut, bahwa “sesungguhnya
dalam hati terdapat ruang kosong dan celah yang tak dapat diisi oleh
sesuatupun kecuali Allah. Terdapat penyakit yang tidak dapat
disembuhkan selain dengan sikap ikhlas dan
beribadah hanya kepada-Nya. Fitnah-fitnah yang mengancam dan menimpa
hati merupakan penyebab sakit hati, yaitu fitnah syahwat, sikap
menyimpang, maksiat-naksiat dan kedzaliman. Juga fitnah subhat,
kesesatan, bid’ah dan kebodohan. Jenis fitnah pertama berimplikasi pada
rusaknya niat dan tujuan, seadangkan fitnah kedua yang berakibat
rusaknya ilmu seseorang serta aqidahnya”
Jenis hati
Ibnu Qoyim dalam bukunya “Mawaridul aman al-muntaqa min ighotsatul lahfan fi mashayidisy syaithon “(2004: 1-6) membagi hati menjadi 3 yaitu
a). Hati yang sehat:
hati yang selalu menerima, mencintai dan mendahulukan kebenaran; hati
yang selamat dari syahwat yang menyalahi Allah dan rasul-Nya, bersih
dari berbagai subhat yang bertentangan dengan beritanya; dan hati yang selamat dari menjadikan sekutu untuk Allah dengan alas an apapun.
b). Hati yang mati
: hati yang tidak menerima kebenaran dan tidak taat pada kebenaran;
hati yang tidak mengetahui Allah bahkan untuk menyembah-Nya; hati yang
didominasi hawa nafsu sebagai komandannya walaupun harus dimurkai dan
dibenci Allah
2:10c). Hati yang sakit
: hati yang hidup tapi cacat, terkadang menerima kebenaran ketika bisa
mengalahkan penyakitnya tapi terkadang menolak kebenaran saat
penyakitnya kambuh. Al-Qur’an menggambarkan hati sakit bahwa : Dalam
hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya (QS. ),
agar dia menjadikan apa yang dimasukan oleh syetan itu, sebagai cobaan
bagi orang-orang yang didalam hatinya ada penyakit (Al-Haj : 53)
Jenis penyakit hati
Penyakit hati ada dua macam : Pertama,
orang yang bersangkutan seketika itu tidak merasakan sakit apapun,
karena penyakit ini manusia tidak merasakan apa-apa karena hati telah
rusak dan apa yang dirasakannya sebagai sebuah kebenaran dan hal yang
yang dianggap fitroh, inilah jenis penyakit terdahulu, seperti penyakit
kebodohan, syubhat, keraguan dan penyakit syahwat kedua, penyakit yang menimbulkan sakit seketika, seperti sedih, gundah, resah dan marah, prustasi.
Dari 2 jenis penyakit ini bisa diikhtisarkan penyakit hati sebagai berikut :
1. Waswas
2. Berlebihan (Isrof)
3. Bersandar pada akal
4. taklid dan fanatisme buta
5. Menganggap baik perbuatan bid’ah dan munkar
6. Menganggap diri mulia dan meremehkan manusia lain.
7. Mengasingkan diri dari manusia
8. Merasa yang paling benar dan menolak kebenaran, kritikan dan masukan yang berasal dari orang lain.
9. Sedih berlebihan sehingga mudah frustasi dan bergembira berlebihan.
10. Sering gelisah dan rendah diri sehingga mudah marah
11. Penyimpangan syahwat, dll.
Terapi hati
Ada beberapa terapi menyembuhkan penyakit hati; Penyakit hati yang sering menggangu manusia dapat diuraikan sebagaimana yang diungkapkan oleh Al-Qur’an adalah
a). Selalu menata hati
Penyakit
fisik maupun rohani dalam penyembuhannya membutuhkan waktu dan
kesadaran pribadi akan sifat-sifat yang dianggap penghambat hati untuk
bertaqorub pada Allah dan beramal ma’ruf pada manusia salah satunya
dengan menata hati : 1). Muhasabah, 2). Bertaubat dan meninggalkan perbuatan serta penyimpangan hati, 3). Mencari dan menguatkan kebenaran dengan mengkaji ilmu Allah, kurangi amalan bid’ah, tahayul dan khurofat 4) Menguatkan niat dan keikhlasan dan terakhir 5). Hati diasah dengan tarbiyah.
b) Selalu memperindah dan Melembutkan hati.
Memperindah hati dan melembutkan hati dengan ibadah secara berkelanjutan seperti
: 1). Membiasakan diri membaca Al-Qur’an untuk menghaluskan lidah 2).
Rajin shalat malam untuk melembutkan hati kita 3). Rajin shaum sunnah
untuk melengkapi kelembutan perut kita 4) membiasakan diri shalat duha
5) Rajin bergaul dengan orang sholeh dalam rangka mengkaji keagamaan.
6). Mempertahankan hijab (tabaruz, Ghodwul bashor, ihtilat, dan kholwat) dengan
lawan jenis untuk menutupi celah-celah syahwat 7). Membiasakan shalat
berjamaah di mesjid. 8). Mengurangi membaca, menonton dan mencoba-coba
media-media (Bacaan porno, VCD, tayangan TV) yang bisa mematikan hati.
c) Menghidupkan hati nurani.
Hati
butuh diasah dengan : 1). Belajar mempertahankan prinsip kebenaran 2).
Belajar berempati pada penderitaan orang lain. 3). Berani mengakui
kesalahan dan kritis mengungkapkan kebenaran walau dilemma dan
menyulitkan 4). Menghidupkan nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupan 5)
bergurulah dengan orang sholeh dengan sering membaca biografi-nya. 6)
carilah seorang pembimbing yang bisa diajak ‘curhat’ kalau kita punya
masalah spiritual dan pribadi yang berat 7) melaksanakan amalan kecil
secara konsisten
tarbiyahkan pribadi kita dalam majlis ilmu dan
forum diskusi.
d). Memelihara dan menjaga hati.
Tidak
hal yang paling sulit adalah menjaga ketetapan hati yang sudah
terpelihara oleh nilai-nilai ilahiyah adalah 1). Niat dan keikhlasan
2). Menjaga komitmen 3). Menjaga pandangan, pendengaran dan lidah dari
hal-hal yang bertentangan dengan nilai agama. 4). Mempertahankan
fikrah/pola fakir yang lurus yang sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah
rasul.
5). Sering menghitung dosa-dosa dan disegerakan bertaubat.
Demikianlah
terapi sederhana penyakit hati dan tentu membutuhkan adanya keberanian
dan jelas butuh adanya reformasi diri dengan memahami bahwa semua
penyakit hati akan menjadi pengahlang kita untuk mendekatkan diri pada
Allah. Wallahu ‘alam bishowab.